TUGAS (Rehan Pratama Siregar E17)
Nama: Rehan Pratama Siregar (E17) (43125010234)
Prodi: Manajemen
Pendahuluan
Wawancara ini dilakukan dengan Bapak Ahmad Fauzi, berusia 45 tahun, yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu instansi pemerintah di Jakarta. Narasumber dipilih karena memiliki pengalaman panjang dalam dunia pelayanan publik dan berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, sehingga dinilai memiliki pandangan yang luas mengenai identitas nasional. Tujuan wawancara ini adalah untuk memahami bagaimana beliau memaknai identitas nasional, bagaimana hal itu tercermin dalam kehidupan masyarakat perkotaan seperti Jakarta, serta tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan nilai-nilai kebangsaan di tengah arus modernisasi dan globalisasi.
Isi
Menurut Bapak Ahmad Fauzi, identitas nasional adalah “jati diri bangsa Indonesia yang mencerminkan persatuan dalam keberagaman, berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan semangat kebangsaan yang tumbuh sejak perjuangan kemerdekaan.” Ia menjelaskan bahwa identitas nasional menjadi landasan penting dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya.
Beliau menambahkan bahwa identitas nasional dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta, misalnya melalui sikap toleransi antarumat beragama, kebiasaan gotong royong di lingkungan tempat tinggal, serta rasa bangga terhadap simbol-simbol negara seperti bendera merah putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Walaupun Jakarta dikenal sebagai kota metropolitan dengan gaya hidup modern, menurutnya nilai-nilai tersebut masih bisa ditemukan, terutama di tingkat komunitas atau lingkungan warga.
Namun, Bapak Ahmad juga menyoroti tantangan besar dalam menjaga identitas nasional, terutama di kota besar seperti Jakarta yang sangat terbuka terhadap pengaruh luar. Ia mengungkapkan bahwa arus informasi global sering membuat sebagian masyarakat, khususnya generasi muda, kehilangan kebanggaan terhadap budaya sendiri. Misalnya, banyak anak muda yang lebih mengenal budaya populer luar negeri dibandingkan budaya tradisional Indonesia. Selain itu, sikap individualistik dan menurunnya kepedulian sosial juga dianggap mengikis semangat gotong royong yang merupakan bagian dari identitas nasional.
Dalam pandangannya, generasi muda memiliki peran sentral dalam memperkuat identitas nasional. Ia menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini melalui pendidikan, kegiatan sosial, dan pemanfaatan media digital. “Anak muda Jakarta seharusnya bisa menjadi contoh positif dengan tetap bangga terhadap budaya Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, dan menjaga sopan santun dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun di media sosial,” ujarnya.
Penutup
Dari hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa bagi Bapak Ahmad Fauzi, identitas nasional merupakan jati diri bangsa yang menjadi kekuatan pemersatu di tengah perbedaan. Tantangan terbesar dalam mempertahankannya adalah pengaruh budaya asing dan menurunnya kesadaran generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan. Sebagai refleksi pribadi, penulis menyadari bahwa menjaga identitas nasional bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh warga negara, terutama generasi muda yang hidup di era digital. Dengan menanamkan rasa cinta tanah air dan melestarikan budaya lokal, setiap individu dapat berkontribusi dalam memperkuat identitas nasional Indonesia di tengah dinamika global.
Komentar
Posting Komentar