Tugas mandiri 14 (E17) Rehan Pratama Siregar
Refleksi Integritas & Kejujuran
Pendahuluan
Integritas dan kejujuran adalah nilai moral yang menjadi fondasi kehidupan akademik dan sosial. Bagi seorang mahasiswa, integritas bukan sekadar sikap pribadi, melainkan komitmen untuk menjaga kredibilitas diri dan institusi pendidikan. Kejujuran dalam akademik berarti menolak segala bentuk kecurangan, seperti plagiarisme, titip absen, atau kerja sama tidak sah saat ujian. Nilai ini krusial karena membentuk karakter yang akan dibawa ke dunia profesional. Tanpa integritas, ilmu yang diperoleh kehilangan makna, dan kepercayaan masyarakat terhadap dunia akademik pun runtuh.
Esai ini merefleksikan pengalaman pribadi dalam menjaga kejujuran di kampus, menganalisis fenomena sosial yang membuat integritas sulit ditegakkan di masyarakat, serta merumuskan rencana aksi untuk mempertahankan komitmen moral setelah lulus.
---
Batang Tubuh
Refleksi Internal (Kampus)
Dalam kehidupan kampus, godaan untuk mengabaikan kejujuran sering muncul. Misalnya, saat menghadapi ujian dengan materi yang sulit, ada dorongan untuk bekerja sama secara tidak sah atau mencari jalan pintas. Saya pernah berada dalam situasi di mana teman mengajak untuk berbagi jawaban saat ujian daring. Saat itu, integritas saya diuji: memilih jalan mudah dengan risiko melanggar aturan, atau tetap jujur meski hasilnya mungkin tidak maksimal. Saya memilih untuk menolak ajakan tersebut, karena saya percaya nilai akademik bukan sekadar angka, melainkan cerminan usaha dan kejujuran.
Plagiarisme juga menjadi tantangan besar. Dengan mudahnya akses internet, menyalin karya orang lain tanpa mencantumkan sumber terasa menggoda. Namun, saya menyadari bahwa plagiarisme merusak integritas akademik dan menghilangkan kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk selalu mencantumkan referensi dan menulis dengan bahasa sendiri.
Jika integritas diabaikan di kampus, dampaknya sangat serius. Mahasiswa kehilangan kesempatan belajar, kualitas lulusan menurun, dan reputasi institusi tercoreng. Lebih jauh, kebiasaan tidak jujur di kampus bisa terbawa ke dunia kerja, melahirkan generasi yang permisif terhadap korupsi dan manipulasi.
Analisis Eksternal (Masyarakat)
Di luar kampus, integritas juga menghadapi tantangan besar. Fenomena korupsi yang masih marak menunjukkan betapa sulitnya menegakkan kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak pejabat publik yang menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi, sehingga merusak kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.
Selain itu, penyebaran hoaks di media sosial menjadi bukti lain lemahnya integritas. Banyak orang lebih memilih menyebarkan informasi tanpa verifikasi demi popularitas atau keuntungan politik. Ketidakjujuran di ruang publik ini menimbulkan polarisasi sosial dan mengancam persatuan bangsa.
Ketidakjujuran juga terlihat dalam praktik sehari-hari, seperti manipulasi data, kecurangan dalam bisnis, atau pelanggaran aturan lalu lintas. Hal ini menunjukkan bahwa integritas bukan hanya masalah individu, tetapi juga budaya masyarakat. Sulitnya menegakkan integritas disebabkan oleh lemahnya penegakan hukum, rendahnya kesadaran moral, dan adanya toleransi sosial terhadap perilaku tidak jujur.
Rencana Aksi
Sebagai mahasiswa yang akan terjun ke dunia profesional, saya menyadari pentingnya merumuskan langkah konkret untuk menjaga integritas. Pertama, saya berkomitmen untuk selalu bekerja dengan jujur, baik dalam penelitian, pekerjaan, maupun interaksi sosial. Kedua, saya akan menolak segala bentuk manipulasi atau kecurangan, meski mungkin ada tekanan dari lingkungan kerja. Ketiga, saya akan membangun budaya transparansi dengan terbuka terhadap kritik dan evaluasi.
Selain itu, saya ingin berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih jujur dengan cara aktif menyuarakan pentingnya integritas, baik melalui tulisan, diskusi, maupun kegiatan sosial. Integritas bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga komitmen kolektif untuk menciptakan lingkungan yang adil dan terpercaya.
---
Penutup
Integritas dan kejujuran adalah nilai yang harus dijaga sejak bangku kuliah hingga dunia kerja. Pengalaman di kampus menunjukkan bahwa godaan untuk mengabaikan kejujuran selalu ada, namun komitmen moral mampu menjadi benteng. Analisis fenomena sosial memperlihatkan bahwa integritas sulit ditegakkan karena adanya korupsi, hoaks, dan budaya permisif terhadap ketidakjujuran.
Sebagai refleksi, saya berkomitmen untuk menjadikan integritas sebagai prinsip hidup. Dengan menjaga kejujuran, saya percaya dapat membangun reputasi yang baik, memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, dan menjadi bagian dari generasi yang mampu membawa perubahan. Integritas bukan sekadar nilai akademik, melainkan fondasi moral yang akan menentukan kualitas bangsa di masa depan.
---
📚 Daftar Pustaka
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
- Komnas HAM. (2020). Laporan Tahunan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Jakarta: Komnas HAM.
- Donnelly, J. (2013). Universal Human Rights in Theory and Practice. Cornell University Press.
- Nugroho, D. (2019). Politik Hukum di Indonesia: Antara Pusat dan Daerah. Jakarta: Rajawali Pers.
- Haryanto, S. (2018). Etika Publik dan Integritas. Jurnal Ilmu Sosial, 4(2), 55–70.
---
Komentar
Posting Komentar